Ulasan Buku Tema Middle Grade: 'Creepy Case Club: Kasus Pohon Pemanggil' Karya Rizal Iwan
IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Creepy Case Club: Kasus Pohon Pemanggil
Penulis : Rizal Iwan
Tahun Terbit : 2025 (Cetakan ke-3)
Halaman : 191 hlm
ISBN : 978-602-481-515-8
Penerbit : PT Grafika Mardi Yuana
Kota Terbit : Bogor
DESKRIPSI SINGKAT (BLURB)
Bila namamu dipanggil, jangan pernah menjawab.
Saat liburan di desa kecil tempat ayah Vedi tinggal. Creepy
Case Club berhadapan dengan misteri yang lama tak terpecahkan: hilangnya
seorang anak di desa tersebut. Menurut takhayul setempat ini ada hubungannya
dengan pohon angker di dekat rumah ayah Vedi.
Vedi pun mulai digangu oleh penampakan aneh, serta suara
misterius yang memanggil-manggil dari arah pohon itu.
Apakah Creepy Case Club berani menyelidiki kasus menyeramkan
ini? dan bisakah vedi menuntaskan urusan yang belum selesai dengan ayahnya?
ULASAN BUKU
Kebetulan sekali saat itu ada event yang sedang diadakan di
gramedia daerahku, sayangnya aku tidak ikut hadir dalam event itu, melainkan
mampir ke rak-rak buku yang ada di sana hingga akhirnya kutemukan buku ini di
rak paling bawah di gramedia lantai dua (kalau tidak salah ingat). Kesan
pertama melihat buku ini aku langsung jatuh cinta dengan covernya dan harganya
cukup terjangkau di kantongku saat itu.
Buku ini menceritakan kisah horor-misteri yang ringan dengan
rating usia 10 tahun ke atas. Jadi cocok untuk anak-anak remaja awal hingga orang
dewasa. Gaya penceritaannya yang mudah dipahami dan konflik yang ringan, bagiku
cocok dijadikan selingan bacaan di malam hari ditemani teh hangat atau coklat
panas bahkan bisa juga dijadikan sebagai obat pereda nyeri setelah membaca
buku-buku dengan konflik berat.
Buku ini mengisahkan cerita liburan Vedi dan dua temannya
yaitu Namira dan Jani di rumah ayahnya yang berada di Bogor. Selama liburan
itu, Vedi merasa tidak tenang karena sering diganggu oleh penampakan dan panggilan-panggilan
dari arah pohon dekat rumah ayahnya—yang kata orang desa disebut pohon angker.
Disebut sebagai pohon angker bermula dari seorang anak desa bernama Gili hilang
tepat di bawah pohon itu menjelang magrib. Akibatnya orang-orang desa ketakutan
berada di luar rumah menjelang magrib. Bahkan ada takhayul yang hidup di desa
itu yang mengatakan: ‘Bila namamu dipanggil, jangan pernah menjawab’. Hal ini
semakin memperkuat keangkeran yang terjadi di sekitar pohon itu.
Diceritakan dalam buku ini, ayah Vedi disangka-sangka oleh
ibunya Gili sebagai penculik anaknya lantaran ayah vedi bukanlah warga asli
desa tersebut. Vedi yang mengetahui itu merasa tidak terima, ia bersama dua
temannya memutuskan untuk membuktikan bahwa ayahnya bukanlah orang yang seperti
itu. Mulailah mereka menyelidiki pohon yang katanya angker tersebut.
Selain itu, buku ini juga menceritakan hubungan Vedi dan
ayahnya yang tidak harmonis membuat konflik dalam buku ini semakin menarik.
Puncaknya yaitu ketika Vedi dan ayahnya bertengkar. Dari pertengkaran itu
membuat Vedi merasa sedih dan memilih melanggar takhayul yang hidup di desa tersebut.
Apa yang terjadi? Vedi menghilang. Ayahnya sangat terpukul atas hilangnya Vedi.
Di sisi lain, Namira dan Jani semakin di buat penasaran oleh pohon itu.
Keduanya pun menyelidiki dan menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan
Vedi. Diakhir cerita, Vedi dan Gili kembali, hubungan Vedi dan ayahnya pun
berangsur membaik. Keduanya menjadi ayah dan anak yang saling menyanyangi.
Dari cerita ini dapat aku simpulakan, di mana pun kita
berada, kita harus patuh dan hormat pada aturan dan larangan yang ada.
Terkadang aturan itu dibuat untuk menertibkan dan mecegah hal-hal buruk terjadi
dan larangan dibuat sebagai bentuk upaya kepedulian terhadap sesama.
Rating yang bisa kuberikan untuk buku ini yaitu: ⭐4,5/5.

_edited.jpg)

0 Komentar
Punya pertanyaan mengenai postingan yang kamu baca? Silakan di kolom komentar.